Manusia purba jaman prasejarah

Manusia purba jaman prasejarah di Indonesia 
Berbagai jenis manusia purba ditemukan diberbagai daerah di pulau Jawa. Selain ditemukan di Indonesia juga ditemukan di negara lain di luar Indonesia. Jenis-jenis yang ditemukan di Indonesia ini, antara lain: Pithecanthropus Erectus, Meganthropus Palaeojavanicus dan Homo. Pada artikel ini, berdasarkan dari berbagai sumber Budaya Jawaku akan membahas secara sekilas dari ketiga jenis tersebut.

1. Pithecanthropus Erectus
Nama ini berasal dari tiga kata, yaitu: pithecos yang berarti kera, anthropus yang berarti manusia, erectus yang berarti tegak Jadi, Pithecanthropus Erectus berarti "manusia kera yang berjalan tegak". Nama sebutan itu didasarkan pada fosil yang ditemukan. Penemuan ini berupa tulang paha yang lebih besar dibandingkan tulang lengan. Demikian juga volume otaknya lebih besar daripada kera, tetapi lebih kecil daripada manusia.

Fosil ini ditemukan oleh seorang ahli purbakala dari negeri Belanda yang bernama Eugene Dubois. Fosil manusia purba ini ditemukan di desa Trinil, Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1891. Fosil sejenis juga ditemukan di desa Jetis, Mojokerto, Jawa Timur di lembah Kali Brantas pada tahun 1936. Karena temuan itu berupa fosil anak-anak, oleh Weidenreich dinamakan Pithecanthropus Robustus. Dan Von Koenigswald menamakannya Pithecanthropus Mojokertensis, karena ditemukan di Mojokerto.

2. Meganthropus Palaeojavanicus
Meganthropus Palaeojavanicus berasal dari empat kata: mega yang berarti besar, anthropus yang berarti manusia, palaco yang berarti tertua, dan javanicus yang berarti Jawa. Meganthropus Palaeojavanicus berarti "manusia besar tertua di Jawa". Arti ini diambil berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tulang rahang atas dan rahang bawah jauh lebih kuat daripada Pithecanthropus Erectus.

Fosil ini ditemukan oleh Von Koenigswald di Sangiran, Surakarta, Jawa tengah pada tahun 1941. Sekarang di tempat tersebut dibangun Museum Purbakala Sangiran. Von Koenigswald menganggap fosil ini lebih tua dibandingkan dengan Pithecanthropus Erectus.

3. Homo
Homo berarti manusia. Fosil ini disebut homo karena menurut penyelidikan yang dilakukan oleh Von Koenigswald, mahkluk ini lebih tinggi daripada Pithecanthropus Erectus. Bahkan, mahkluk homo sebanding dengan manusia biasa. Ada dua jenis fosil homo, yaitu: Homo Soloensis dan Homo Wajakensis.
  • Homo Soloensis berarti "manusia dari Solo". Fosil ini ditemukan oleh Ter Haar dan Oppernoth di daerah Ngandong, lembah bengawan Solo.
  • Homo Wajakensis berarti "manusia dari wajak". Karena  ditemukan di desa Wajak, dekat Tulungagung, Jawa Timur. Fosil ini ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1889. Jenis manusia purba ini setingkat dengan Homo Soloensis. Fosil ini diperkirakan mirip dengan penduduk asli Australia.
Berdasarkan perkembangannya dikenal jenis homo yang lain, yaitu Homo Sapiens. Homo Sapiens berarti "manusia cerdas. Jadi, jenis manusia ini jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan mahkluk sebelumnya. Jenis homo inilah yang dikatakan sebagai nenek moyang bangsa Indonesia yang berasal dari Yunan.
Menurut Von Koenigswald, fosil-fosil tersebut ditemukan dilapisan yang berbeda.
  • Fosil Meganthropus Palaeojavanicus ditemukan di lapisan dilluvium bawah (lapisan Jetis).
  • Fosil Pithecanthropus Erectus ditemukan di lapisan dilluvium tengah (lapisan Trinil).
  • Fosil Homo ditemukan di lapisan dilluvium atas (lapisan Ngandong.).
Berdasarkan keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa Meganthropus lebih tua daripada Pithecanthropus Erectus. Namun, Pithecanthropus Erectus lebih tua dibandingkan dengan Homo.

Manusia purba jaman prasejarah di luar Indonesia 
Seperti telah disinggung pada artikel Manusia purba jaman prasejarah di Indonesia, bahwa manusia-manusia purba selain ditemukan di Indonesia juga ditemukan di negara lain di luar Indonesia. Antara lain: Cina, Afrika dan Eropa. Berdasarkan dari sumber buku-buku sejarah, pada artikel ini Budaya Jawaku juga akan membahas secara sekilas hal tersebut.

1. Di Cina
Di Cina disebut Homo Pekinensis. Yang berarti "manusia dari Peking" yang sekarang nama Peking berganti menjadi Beijing. Homo Pekinensis ditemukan di gua Choukoutien, sekitar 40km dari Peking. Fosil ini ditemukan oleh seorang sarjana dari Kanada, yeng bernama Davidson Black. Berdasarkan penyelidikan, kerangka jenis ini menyerupai kerangka Pithecanthropus Erectus. Oleh karena itu, para ahli menyebutnya juga dengan nama Pithecanthropus Pekinensis atau Sinanthropus Pekinensis, yang berarti "manusia kera dari Peking".

2. Di Afrika
Di Afrika disebut Homo Africanus, yang berarti "manusia dari Afrika". Fosilnya ditemukan oleh Raymond Dart. Fosil ini ditemukan di dekat sebuah pertambangan Taung Bostwana, pada tahun 1924. Setelah direkonstruksi ternyata membentuk kerangka seorang anak yang berusia sekitar 5 sampai 6 tahun. Fosil ini diberi nama Australopithecus Africanus, karena hampir mirip dengan penduduk asli Australia. Selanjutnya, Robert Broom menemukan fosil serupa yang berupa tengkorak orang dewasa di tempat yang sama.

3. Di Eropa
Di Eropa disebut Homo Neandherthalensis. Nama itu mengandung arti "manusia Neandhertal". Manusia jenis ini ditemukan oleh Rudolf Virchow di lembah Neander, Dusseldorf, Jerman Barat pada tahun 1856. Selain di Jerman, juga ditemukan di gua Spy Belgia. Di Perancis juga ditemukan  yang disebut Homo Cro Magnon. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa perbedaan antara jenis Pithecanthropus Erectus dengan Homo Sapiens. Perbedaannya antara lain:
  1. Ruang tengkorak Pithecanthropus lebih kecil dibandingkan Homo Sapiens, sehingga volume otaknya juga lebih kecil. Ruang tengkorak Pithecanthropus kurang dari 1000cc, sedangkan ruang tengkorak Homo Sapiens lebih dari 1000cc.
  2. Tulang kening Pithecanthropus lebih menonjol ke depan.
  3. Tulang rahang bawah Pithecanthropus lurus ke depan sehingga tidak berdagu, sedangkan Homo Sapiens berdagu.
  4. Tulang rahang dan gigi Pithecanthropus lebih besar dan kuat daripada tulang rahang Homo Sapiens.
  5. Tinggi dan berat badan Homo Sapiens lebih besar, yaitu 130-210 cm dan 30-150 kg.