Puncak kejayaan kerajaan Ternate


Seperti telah dibahas secara singkat pada artikel Kerajaan Ternate dan Tidore, untuk kali ini penulis akan menjabarkan lebih secara rinci tentang Kerajaan Ternate.  Kerajaan ini berdiri pada abad ke-13 dengan beribukota di Sampalu. Letaknya di Kepulauan Maluku bagian utara. Ketika Bandar Malaka menjadi ramai, permintaan rempah-rempah dari Maluku semakin besar. Bersamaan dengan itu pengaruh Islam masuk ke Ternate. Islam mulai disebarkan ke kerajaan ini pada abad ke-14. Masa kejayaan Kerajaan Demak, beberapa pemuda Ternate telah belajar agama Islam kepada Sunan Giri. Salah satu pemuda tersebut adalah Sultan Zainal Abidin, Raja Ternate.

Maluku merupakan daerah yang kaya rempah-rempah. Dengan kekayaan ini menjadikan posisinya menjadi penting pada masa itu. Banyak pedagang dari Jawa, Aceh, Arab dan Cina datang ke Ternate. Para pedagang pada umumnya membeli rempah-rempah dan menual beras, madu dan pakaian.

Melalui jalan dagang ini Islam berkembang ke Maluku, seperti Ambon, Ternate dan Tidore. rempah yang dihasilkan Maluku terutama pala dan cengkih. Pala dan cengkih ini sangat dibutuhkan bangsa Eropa sebagai bahan ramuan obat-obatan dan penghangat badan.

Semula pala dan cengkih dihasilkan dihutan secara alam, tetapi dengan banyaknya permintaan pada abad ke-12 mulai diusahakan dalam bentuk perkebunan. Pengusahaan perkebunan rempah-rempah ini terutama di Pulu Buru, Seram, Ambon dan Halmahera.

Ramainya perdagangan rempah-rempah di Maluku mendorong timbulnya persekutuan-persekutuan dagang, seperti berikut ini:
  1. Uli-Lima yang berarti persekutuan lima. Anggotanya lima pulau kecil di Kepulauan Maluku. Kelima pulau tersebut adalah Ternate sebagai ketuanya. Obi, Bacan, Seram dan Ambon sebagai anggotanya.
  2. Uli-Siwa yang berarti persekutuan sembilan. Anggotanya sembilan pulau di Kepulauan Maluku. Kesembilan pulau tersebut adalah Pulau Makian, Halmahera, Mare, Moti dan pulau-pulau kecil lain, sedangkan Tidore sebagai ketuanya.
Kedua persekutuan ini akhirnya bersaing setelah kedatangan bangsa Barat di Maluku. Portugis datang ke Maluku tahun 1512 dan bersekutu dengan Ternate, sedangkan Spanyol datang ke Maluku tahun 1521 dan bersekutu dengan Tidore. Kedua kerajaan yang diperalat bangsa asing ini akhirnya bersaing dan bermusuhan.

Portugis yang lebih awal datang ke Maluku dan telah membangun Benteng San Paulo merasa lebih kuat. Portugis berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat Ternate dan memonopoli perdagangan di Maluku. Tindakan yang demikian ini mendapat perlawanan dari Spanyol di Tidore. Rakyat Ternate sendiri juga mengadakan perlawanan dengan pimpinan Sultan Hairun pada tahun 1550 - 1570.

Spanyol kalah dan menyingkir dari Maluku, sedangkan Sultan Hairun ditangkap Portugis. Setelah Sultan Hairun dipenjarakan, perdagangan Portugis dikuasai rakyat Maluku. Kemudian Sultan Hairun dikeluarkan dan diajak berunding, tetapi keesokan harinya Sultan Hairun dibunuh ketika berkunjung ke bentengnya.

Peristiwa ini menimbulkan kemarahan besar bagi rakyat Maluku dan Sultan Baabullah, anak Sultan Hairun pada tahun 1570 - 1583, bersama rakyat Ternate mengadakan perlawanan besar-besaraan terhadap Portugis. Dalam perlawanan ini ternyata mendapat dukungan Tidore, sehingga Baabullah berhasil mengepung Benteng Portugis selama lima tahun. Hal ini menyebabkan pasukan Portugis kekurangan bahan makanan dan menyerah kepada Sultan Baabullah.

Ternate mencapai pundak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Baabullah. Wilayahnya sampai ke daerah Flipina bagian selatan. Bersamaan ini pula penyebaran Islam sampai ke wilayah Filipina bagian selatan, sehingga sampai sekarang penduduk Filipina bagian selatan banyak yang memeluk Islam.

Berikutnya: Peranan para Wali/ulama dalam bidang sosial budaya dan